BERWA.ID, MAKASSAR - Sindikat penipuan online yang dikenal luas dengan sebutan Sobis kini memjamur dibeberapa wilayah Kabuten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), para pelaku Kejahatan digital tersebut beroperasi terstruktur, tertutup, dan Terorganisir semakin marak karena kuat dugaan dibekingi oknum Aparat TNI AD dan Polri Penegak Hukum (APH) setempat.


Tak Tanggung-tanggung para pelaku yang berkelompok itu memberikan upeti kesejumlah petugas sebesar Rp 8 juta hingga Rp10 juta sebulan untuk melancarkan aksi mereka.


Akibatnya Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Wajo masuk salah daerah yang tengah mengalami krisis moral dan hukum yang serius dan tingkat kepercayaan masyarakat mengalami kemunduran dengan APH di Wilayah itu.


Menanggapi hal itu, Dirreskrimsus Polda Sulsel  menegaskan akan bergerak cepat menindaki isu tersebut.


"Kami atas instruksi bapak Kapolda akan segera menurunkan tim dari Subdit V Tipidsiber (Tindak Pidana Siber) agar segera melakukan penyelidikan," ungkapnya pada tim, Senin, 20 April 2026.


Terkait keterlibatan dari oknum Aparat TNI AD dan Polru APH,  menegaskan bahwa mereka tidak akan pandang bulu dalam apabila hal itu bisa dibuktikan.


"Penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh dan transparan, bukti terkecilpun akan kami telusuri, bila perlu kami akan menggandeng pihak Pomdam XIV / Hasanuddin Sulsel ataupun Polda Sulsel APH lainnya," tegasnya.


Seperti yang diberitakan sebelumnya, salah satu mantan pelaku sobis yang meminta tidak disebutkan namanya, membenarkan soal upeti atau setoran tersebut, dimana tujuannya agar mereka mendapat perlindungan dari jeratan hukum.


Ironisnya lagi, masyarakat di wajo sendiri sudah lama mengetahui keberadaan para passobis ini. Namun ketakutan, relasi kekuasaan, dan dugaan adanya backing kuat membuat mereka tidak berani bersuara. Banyak warga bahkan meyakini bahwa ada aktor intelektual dan kekuatan besar yang melindungi gerakan mereka dari balik layar.


"Jadi setiap bulan kami menyetor ke oknum Aparat TNI AD Sebagai Babinsa Setempat, dia yang mengkoordinir petugas lainnya, yang jelas satu titik kelompok harus membayar begitu, nah selanjutnya mereka bagi ke Polsek Tanasitolo sampai ke Resmob Pajanojago, Tipidter Polres Wajo lain lagi kalau ada tim dari Polda Sulsel kita diminta lagi buat bayar biaya operasionalnya," ungkap Pria jakung tersebut, kamis (16/4/2026).


Lanjut ia katakan, sewaktu dirinya bergabung oknum itu menyisir setiap kelompok mulai dari Desa Pakkanna, Keluran Tancung, Kelurahan Mappadaelo Kelurahan Pincengpute hingga Desa Palippu Pusat Sobis.


"Semua kelompok membayar, bahkan ada satu desa lebih dari satu kelompok," terangnya.


Sementara itu, warga Desa Palippu yang sempat ditemui media ini juga membenarkan hal tersebut, dimana ia mengungkapkan kekwatirannya Isu mengenai keterlibatan oknum aparat TNI AD Babinsa dalam membekingi mereka beroperasi.


Hati hati Passobis Berhenti Sebelum Ditangkap dan Membayar Mahal Tidak Ada Jaminan Aparat, Anda dapat Dilindungi


Ironisnya, meski aktivitas ini telah menjadi rahasia umum dan perbincangan hangat di tengah masyarakat, hingga kini belum terlihat langkah tegas dari pihak berwenang.


Lebih mencengangkan lagi, muncul dugaan bahwa jaringan ini mendapat “perlindungan dari oknum tertentu, sehingga mampu bertahan dan berkembang secara terang-terangan.


Dan menurutnya, Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius dimana peran negara ketika anak-anak di bawah umur dijadikan alat kejahatan. Dimana Tim Siber Polda Sulsel dan Kodam untuk mengantisipasi ini maraknya Sobis penipuan online di Wajo.


"Sudah banyak anak-anak yang dipekerjakan, kasian mereka," tuturnya.(Tim)